Sukoharjo, 13 Januari 2026. Dalam era pendidikan modern, guru dituntut untuk mampu memahami keberagaman karakteristik peserta didik. Setiap anak memiliki gaya belajar, minat, serta kemampuan yang berbeda-beda. Untuk itu, dibutuhkan pendekatan pembelajaran yang adaptif agar semua peserta didik dapat berkembang secara optimal. Salah
satu pendekatan yang relevan adalah Differentiated-Based Learning atau pembelajaran berdiferensiasi.
MIM 1 PK Sukoharjo merupakan salah satu madrasah yang telah menerapkan pendekatan ini dalam kegiatan belajar mengajar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa.
Differentiated-Based Learning adalah pendekatan pembelajaran yang menyesuaikan proses, konten, dan produk belajar dengan kebutuhan individual peserta didik. Tujuannya adalah memberikan kesempatan belajar yang setara dengan cara yang berbeda, namun tetap berorientasi pada pencapaian kompetensi yang sama.
Pembelajaran ini mempertimbangkan tiga aspek utama:
- Kesiapan belajar peserta didik – kemampuan dan pemahaman awal siswa.
- Minat peserta didik – topik atau cara belajar yang mereka sukai.
- Profil belajar peserta didik – gaya belajar seperti visual, auditori, atau kinestetik.
Guru-guru di MIM 1 PK Sukoharjo, salah satunya Ibu Ari Santi Puji Astuti, S.Pd telah berupaya mengintegrasikan prinsip differentiated learning ke dalam kegiatan pembelajaran Pendidikan Pancasila pada kelas 6. Langkah-langkah yang ditempuh dalam pembelajaran ini antara lain:
- Identifikasi kebutuhan belajar siswa. Guru melakukan asesmen diagnostik untuk mengetahui kemampuan awal dan gaya belajar peserta didik.
- Perancangan kegiatan belajar yang bervariasi. Dalam satu kelas, guru menyediakan beberapa pilihan aktivitas pembelajaran, seperti membuat resume, bermain peran, atau membuat poster.
- Pemberian tugas berbeda sesuai gaya belajar siswa. Siswa yang suka membaca can menulis diberi tugas membuat rangkuman. Siswa yang suka bercerita dan kegiatan fisiknya banyak, diberi tugas bermain peran. Sementara itu, siswa yang suka menggambar diberi tugas membuat poster.
- Penilaian formatif yang fleksibel. Guru menggunakan berbagai bentuk penilaian seperti portofolio, proyek, dan observasi untuk mengukur perkembangan secara komprehensif.
Seperti yang telah diterapkan Ibu Ari Santi, guru memberikan tugas tentang menghargai perbedaan budaya dan agama dengan membuat rangkuman, bermain peran, atau membuat poster. Siswa dalam kelompok tersebut pun mempresentasikan hasil karyanya sesuai minat masing-masing. Dengan cara ini, setiap siswa bisa mengekspresikan pemahamannya sesuai gaya belajar masing-masing.
Penerapan pembelajaran berdiferensiasi di MIM 1 PK Sukoharjo menunjukkan hasil yang positif. Siswa menjadi lebih aktif, berani berpendapat, dan menunjukkan peningkatan dalam kemampuan berpikir kritis serta kreativitas.
Selain itu, hubungan antara guru dan siswa menjadi lebih hangat karena guru lebih memahami keunikan setiap anak. Secara umum, suasana kelas menjadi lebih inklusif dan menyenangkan.
Walaupun manfaatnya besar, penerapan Differentiated-Based Learning juga menghadapi beberapa tantangan, seperti keterbatasan waktu, jumlah siswa yang banyak, serta kebutuhan guru untuk terus berinovasi.
Untuk mengatasinya, pihak madrasah memberikan pelatihan rutin bagi guru, membangun komunitas belajar antarpendidik, dan mengembangkan perangkat ajar berbasis kebutuhan siswa.
Pendekatan Differentiated-Based Learning merupakan langkah strategis dalam mewujudkan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Melalui inovasi ini, MIM 1 PK Sukoharjo tidak hanya mencetak siswa yang cerdas secara akademis, tetapi juga mandiri, kreatif, dan berkarakter. Pembelajaran berdiferensiasi menjadi bukti nyata bahwa setiap anak berhak dan mampu belajar dengan caranya sendiri demi masa depan pendidikan yang lebih inklusif dan bermakna.







0 Comments